RSS

Blogger pemula

Bupati laungching pilkades serentak2018 di kabupaten bima





Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima melaluibBupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri (IDP) melakukan launching pelaksanaan Pemilihan 53 Kepala Desa serentak secara bergelombang di Kabupaten Bima tahun 2018 yang dilaksanakan di aula kantor Bupati Bima pada hari Rabu (25/7). Momentum ini ditandai dengan pemukulan Gong oleh Bupati Bima sebagai tanda launching Pilkades Serentak Tahun 2018.





Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Bima, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bima, unsur FKPD, Sekda, para Asisten, Kabag, Kepala DPMDES beserta jajaranya, camat, serta seluruh unsur Muspika kecamatan,  para kepala desa, serta anggota BPD Desa. "Pelaksanaan pemilihan kepala desa merupakan sebuah proses untuk mencapai tujuan dalam menghasilkan kepala desa terpilih yang berkualitas dan sesuai dengan harapan masyarakat," ungkap Bupati saat launching berlangsung.

Berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Bupati Nomor 23 tahun 2018 tentang waktu pemilihan kepala desa serentak bergelombang di Kabupaten Bima untuk gelombang pertama akan dilaksanakan pada tahun 2018, gelombang kedua akan dilaksanakan pada tahun 2019 serta gelombang ketiga akan dilaksanakan tahun 2022. Pada tahun 2018 ini ada 53 desa yang akan melaksanakan pemilihan kepala desa secara serentak dan tahun 2019 akan dilaksanakan sebanyak 82 desa dengan harapan penyelenggaran pemilihan kepala desa serentak akan berangsung secarademokratis dan menghasilan pimpinan pemerintahan desa yang berkualitas. "Untuk itu, diperlukan partisipasi aktif masyarakat dalam menyukseskan agenda ini karena masyarakat mempunyai peran penting dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan desa," ucapynya.

Maka dari itu, Bupati menghaapkan kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam proses pemilihan Kepala Desa serentak agar berpegang pada prinsip sukses yang diantaranya prinsip sukses berpatisipasi, sukses regulasi dan sukses pemilihan kepala desa yang dvinitive dengan tetap menjaga silaturahmi, keamanan dan ketertiban dalam arti luas. Dalam pemilihan kepala desa nanti, masyarakat yang melaksanakan pemilihan kepala desa diwajibkan mempunya KTP elekstronik, hal ini dikarenakan salah satu persyarakatan yang harus dimiliki oleh masyarakat. "Sebab idak digunakan lagi persyaratan domisili paling kurang 1 (satu) tahun dan surat kelakuan baik dari kepolisian bagi calon kepala desa," imbuhnya.asarkan ketentuan dalam Peraturan Bupati Nomor 23 tahun 2018 tentang waktu pemilihan kepala desa serentak bergelombang di Kabupaten Bima untuk gelombang pertama akan dilaksanakan pada tahun 2018, gelombang kedua akan dilaksanakan pada tahun 2019 serta gelombang ketiga akan dilaksanakan tahun 2022. Pada tahun 2018 ini ada 53 desa yang akan melaksanakan pemilihan kepala desa secara serentak dan tahun 2019 akan dilaksanakan sebanyak 82 desa dengan harapan penyelenggaran pemilihan kepala desa serentak akan berangsung secarademokratis dan menghasilan pimpinan pemerintahan desa yang berkualitas. "Untuk itu, diperlukan partisipasi aktif masyarakat dalam menyukseskan agenda ini karena masyarakat mempunyai peran penting dalam menentukan arah kebijakan pemerintahan desa," ucapynya.

Maka dari itu, Bupati menghaapkan kepada seluruh stakeholder yang terlibat dalam proses pemilihan Kepala Desa serentak agar berpegang pada prinsip sukses yang diantaranya prinsip sukses berpatisipasi, sukses regulasi dan sukses pemilihan kepala desa yang dvinitive dengan tetap menjaga silaturahmi, keamanan dan ketertiban dalam arti luas. Dalam pemilihan kepala desa nanti, masyarakat yang melaksanakan pemilihan kepala desa diwajibkan mempunya KTP elekstronik, hal ini dikarenakan salah satu persyarakatan yang harus dimiliki oleh masyarakat. "Sebab idak digunakan lagi persyaratan domisili paling kurang 1 (satu) tahun dan surat kelakuan baik dari kepolisian bagi calon kepala desa," imbuhnya.

Mata air tampuro menjadi tempat wisata alam di kota bima

Sumber daya air merupakan salah satu sumber daya alam penting bagi kehidupan. Meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan telah meningkatkan kebutuhan terhadap sumber daya air. Di lain pihak, ketersediaan sumber daya air semakin terbatas, bahkan di beberapa tempat di Bima seperti mata air Tampuro, Desa Piong, Kecamatan Sanggar dikategorikan berada dalam kondisi kritis. Mata air Tampuro merupakan objek wisata yang berada di wilayahKecamatan Sanggar dan sebagai salah satu sumber daya air non-perpipaan yang terlindungi, keberadaannya tidak selalu berada di kawasan lindung atau kawasan hutan. Hal ini karena telah ditemukan sejumlah mata air di dekat lahan penduduk, sehingga tidak jarang penduduk menggunakan mata air tersebut untuk keperluan sehari-hari Keadaan mata air Tampuro,Kecamatan Sanggar sungguh sangat memprihatinkan, karena tidak jarang banyaknya sampah atau sisa deterjen langsung di buang kedalam mata air tersebut. Hal ini diakibatkan antara lain oleh adanya para penduduk yang tinggal disekitar mata air Tampuro menggunakannya sebagai tempat mencuci pakaian mereka.

  “kami mau cuci dimana lagi pak, sedangkan sarana untuk MCK di sekitar tempat tinggal kami tidal disediakan atau dibangun oleh pemerintah,”kata Tini (37) wanita asal Piong, saat ditanyai oleh Uma Solud.(FN)

Perkembangan desa wisata kolo, kota bima



Kota Bima merupakan salah satu daerah tujuan wisata di propinsi NTB. Daerah ini terbagi dalam 5 (lima) kecamatan yaitu 1) Kecamatan RasanaE Barat, 2). Kecamatan Asakota, 3) Kecamatan Mpunda 4). Kecamatan Raba 5). Kecamatan RasanaE Timur Berta memilikiltins wilayah 222,25 KM2. Secara factual, Kota Bima merupakan kota penting di Nusa Tenggara khususnya di kawasan Timur, terutama dalam hubungan wilayah dan percaturan dagang.
  Posisi dan peranannya yang penting ini didukung oleh letaknya yang strategic di segi tiga mac Daerah Nusantara. Bima menjadi kota yang menghubungkan antara Sulawesi dio bagian Utara, Bali dan Lombok di bagian Barat, Flores, Sumba Timur di bagian Timur.
Masyarakat Kota Bima pada umumnya adalah Bima yang masih lekat dengan warna kehidupan sosial budaya dan keasliannya. Masyarakatnya masih menghargai dan menjunjung tinggi adat dan budaya. Ragam dan budaya yang ada merupakan keterpaduan antara alam dan iklim yang mempengaruhinya. Dengan kata lain, budaya dan wisata alam merupakan anugrah dan fitrah Illahi yang Baling berkaitan antara satu dan lain sesuai dengan tuntunan dan sendi agama masyarakatnya yang religius.
    Aneka ragam budaya dan wisata alam cukup menarik bila dipoles dengan terampil sehingga potensi wisata pantas dijual. Sebut Baja seperti Mada Oimbo, Kolo. Lawata, Oi ni'u, Oisii dan lain-lain, jikadikembangkan dan ditata dengan rapi maka hasilnya tidak kalah menarik seperti obyek daya tarik wisata yang berada di tempat lain Oleh karena itu, pengembangan destinasi kawasan Kolo sangat urgen untuk dilakukan, mengingat pentingnya obyek ini karena disamping berfungsi sebagai obyek daya tarik wisata pantai juga sebagai tempat transaksi dagang barang-barang luar dan jalur pelabuhan alternatif yang cukup potensial.

Rektor ummat melantik rektor baru




Masa jabatan Wakil Rektor Universitas muhammadiyah Mataram (UMMAT) periode 2013-2017 telah berakhir. Maka penjaringan Wakil Rektor beberapa bulan lalu menghasilkan 3 orang calon yang kemudian di SK kan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ketika Wakil Rektor yang di SK kan akhirnya di lantik pada tanggal 30 Desember 2017 kemarin, acara pelantikan dihadiri oleh seluruh pimpinan Fakultas dan Universitas serta disaksikan langsung oleh Ketua Majelis Diklitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. H. Lincolin Arsyad, P.hD, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB, dan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMMAT. Ketiga Wakil Rektor periode 2017-2021 merupakan dosen-dosen dari FKIP UMMAT, duduk di kursi Wakil Rektor 1 adalah Dr. Harry Irawan J, wakil Rektor II, Siti Lamusiah, M. Si, dan Wakil Rektor III, Hafsah, M.Pd. Usai pelantikan, Rektor UMMAT dalam sambutannya mengucapkan selamat sekaligus memberikan tantangan-tantangan baru kepada ketiga Wakil Rektor yang dilantik, untuk terus meningkatkan program-program prioritas UMMAT, terutama berkaitan dengan akreditasi lembaga, penelitian dan publikasi ilmiah serta peningkatan kualitas dosen melalui kuliah lanjut, baik dalam maupun luar negeri. Hal yang sama juga disampaikan oleh Prof. Lincolin. Beliau mengingatkan seluruh civitas akademika UMMAT untuk terus membangun kompetisi yang ketat dengan universitas-universitas lain, baik universitas negeri maupun swasta dalam rangka meningkatkan grade lembaga PTM khususnya di Mataram, NTB.

Fahri hamzah antar bantuan ke lombok Rp. 100 juta


Ke Lombok, Fahri Hamzah Antar Bantuan Rp 100 Juta dari DPR
   Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyalurkan bantuan DPR kepada masyarakat yang menjadi korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (1/8/2018). Selain itu, kunjungan Fahri yang didampingi dua anggota Dewan dari dapil NTB, yaitu Lalu Gede Syamsul Mujahidin (Fraksi Hanura) dan M Syafruddin (Fraksi PAN), serta tim dari DPR, juga dilakukan untuk memantau aktivitas tanggap darurat gempa yang terjadi beberapa hari lalu. 

  Fahri mengatakan total bantuan yang dibawanya atas amanah dari pimpinan dan anggota DPR untuk masyarakat korban gempa Lombok adalah Rp 100 juta, berupa sembako dan uang tunai. 

  "Bantuan ini dari anggota dan pimpinan DPR yang menitipkan gaji mereka untuk korban. Ketua DPR juga menitipkan sekitar Rp 50 juta sehingga total dana yang terkumpul sebesar Rp 100 juta," sebut Fahri saat mengunjungi tenda pengungsian.

Banjir di kota bima



Banjir Bandang di Bima NTB, Ribuan Rumah Terendam
Perubahan iklim dalam beberapa waktu terakhir mengakibatkan berbagai bencana alam yang berkepanjangan. Letak geografis Indonesia yang berada pada ekuator menjadikan Indonesia rawan bencana hidrometeorologis. Hujan deras yang mengguyur wilayah Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 21 Desember 2016 mengakibatkan ribuan rumah terendam banjir.
Kondisi topografi wilayah Kota Bima sebagian besar merupakan perbukitan dan pesisir (Teluk Bima). Pegunungan dan perbukitan membentang di bagian selatan dan utara, meliputi Kecamatan Rasane Timur dan Rasane Barat. Sedangkan dibagian barat yang meliputi sebagian kecamatan Raba merupakan dataran alluvial pantai. Kondisi hidrologi permukaan ditentukan oleh sungai-sungai yang ada pada umumnya berdebit kecil oleh karena sempitnya wilayah tangkapan hujan dan sistem sungainya. Hal inilah yang menyebabkan Kota Bima rawan akan Banjir Bandang dan Banjir Sungai. Terdapat 2 sungai besar yang mengalir di Kota Bima, yaitu Sori Nae dan Sori Lelamase.

Kota Bima merupakan daerah yang relatif kering. Hal ini selaras dengan data curah hujan dari Stasiun Klimatologi Kediri – BMKG Nusa Tenggara Barat. Sepanjang tahun curah hujan hanya berkisar 0 – 150 mm. Pada periode Juli dasarian 3 hingga september dasarian 2, sebagian besar Bima hanya memiliki curah hujan 0 – 50 mm, Puncak curah hujan terjadi pada akhir bulan Desember hingga akhir Januari. Hampir seluruh Dompu hujan dengan intensitas 0 - 150 mm.


Kebudayaan suku bima



Di negara kita indonesia ini,ada banyak sekali keberagaman suku dan bahasa.Hingga saat ini kurang lebih ada 1,340 suku bangsa dari seluruh pelosok indonesia,dan dari sekian banyak suku saya akan membahas salah satu suku dari nusa tenggara barat yaitu suku bima.mengapa saya memilih suku bima?ini dikarenakan banyak unsur kebudayaan yg dapat kita ulas suku bima ini.



Di negara kita indonesia ini,ada banyak sekali dan bahasa.Hingga saat ini kurang lebih ada 1,340 suku bangsa dari seluruh pelosok indonesia,dan dari sekian banyak suku saya akan membahas salah satu suku dari nusa tenggara barat yaitu suku bima.mengapa saya memilih suku bima?ini dikarenakan banyak unsur kebudayaan yg dapat kita ulas suku bima ini.

Suku Bima atau biasa disebut juga suku Dou Mbojo merupakan etnis  yang mendiami Kabupaten Bima dan Kota Bima. Suku ini dikabarkan telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Lingkungan alam suku Bima berbeda-beda karena di daerah utara Lombok tanahnya sangat subur sedangkan sebelah selatan tanahnya gundul dan tidak subur. Kebanyakan dari mereka bermukim sekitar 5 km atau lebih dari pesisir pantai. Dahulu Suku Bimadisebut juga suku "Oma" (artinya "berpindah-pindah") karena pada saat itu mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini berarti pada saat ini Suku Bima telah tinggal menetap. Suku Bima memiliki hubungan dengan suku Sasak yang tinggal berdekatan di Propinsi Nusa Tenggara Barat. 

Mata pencaharian yang utama adalah meramu. Selain itu, mereka juga bersawah beternak kuda dan berburu. Suku Bima terkenal dengan kudanya yang kecil tetapi kuat. Tahun 1920-an daerah Bima sudah menjadi tempat pengembangbiakan kuda yang penting. Sistem pengairan Subak yang dikenal dalam masyarakat Bali dan Sasak juga diterapkan, disebut ponggawa. Irigasi secara permanen ini dapat dilakukan karena adanya sungai-sungai di pesisir utara dan sungai-sungai di pusat pegunungan. Selain itu, para wanita juga membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan 'tembe nggoli, yang terkenal.

Secara umum, penduduk Nusa Tenggara Barat sangat terikat dengan adat dan agamanya, Namun demikian, mereka tidak menutup diri sama sekali dari pengaruh luar. Dahulu, sekolah dianggap perusak adat. Saat ini anak-anak disekolahkan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mereka cenderung beranggapan segala yang berasal dari luar itu baik, terutama yang menyangkut kebudayaan dan teknologi. Cara hidup dan berfikir sudah mengikuti pola modern, hidup hemat, cermat dan ekonomis.

Di negara kita indonesia ini,ada banyak sekali keberagaman suku dan bahasa.Hingga saat ini kurang lebih ada 1,340 suku bangsa dari seluruh pelosok indonesia,dan dari sekian banyak suku saya akan membahas salah satu suku dari nusa tenggara barat yaitu suku bima.mengapa saya memilih suku bima?ini dikarenakan banyak unsur kebudayaan yg dapat kita ulas suku bima ini.

Suku Bima atau biasa disebut juga suku Dou Mbojo merupakan etnis  yang mendiami Kabupaten Bima dan Kota Bima. Suku ini dikabarkan telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Lingkungan alam suku Bima berbeda-beda karena di daerah utara Lombok tanahnya sangat subur sedangkan sebelah selatan tanahnya gundul dan tidak subur. Kebanyakan dari mereka bermukim sekitar 5 km atau lebih dari pesisir pantai. Dahulu Suku Bimadisebut juga suku "Oma" (artinya "berpindah-pindah") karena pada saat itu mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ini berarti pada saat ini Suku Bima telah tinggal menetap. Suku Bima memiliki hubungan dengan suku Sasak yang tinggal berdekatan di Propinsi Nusa Tenggara Barat. 

Mata pencaharian yang utama adalah meramu. Selain itu, mereka juga bersawah beternak kuda dan berburu. Suku Bima terkenal dengan kudanya yang kecil tetapi kuat. Tahun 1920-an daerah Bima sudah menjadi tempat pengembangbiakan kuda yang penting. Sistem pengairan Subak yang dikenal dalam masyarakat Bali dan Sasak juga diterapkan, disebut ponggawa. Irigasi secara permanen ini dapat dilakukan karena adanya sungai-sungai di pesisir utara dan sungai-sungai di pusat pegunungan. Selain itu, para wanita juga membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan 'tembe nggoli, yang terkenal.

Secara umum, penduduk Nusa Tenggara Barat sangat terikat dengan adat dan agamanya, Namun demikian, mereka tidak menutup diri sama sekali dari pengaruh luar. Dahulu, sekolah dianggap perusak adat. Saat ini anak-anak disekolahkan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mereka cenderung beranggapan segala yang berasal dari luar itu baik, terutama yang menyangkut kebudayaan dan teknologi. Cara hidup dan berfikir sudah mengikuti pola modern, hidup hemat, cermat dan ekonomis.

Mata pencaharian yang utama adalah meramu. Selain itu, mereka juga bersawah beternak kuda dan berburu. Suku Bima terkenal dengan kudanya yang kecil tetapi kuat. Tahun 1920-an daerah Bima sudah menjadi tempat pengembangbiakan kuda yang penting. Sistem pengairan Subak yang dikenal dalam masyarakat Bali dan Sasak juga diterapkan, disebut ponggawa. Irigasi secara permanen ini dapat dilakukan karena adanya sungai-sungai di pesisir utara dan sungai-sungai di pusat pegunungan. Selain itu, para wanita juga membuat kerajinan anyaman dari rotan dan daun lontar, juga kain tenunan 'tembe nggoli, yang terkenal.

Secara umum, penduduk Nusa Tenggara Barat sangat terikat dengan adat dan agamanya, Namun demikian, mereka tidak menutup diri sama sekali dari pengaruh luar. Dahulu, sekolah dianggap perusak adat. Saat ini anak-anak disekolahkan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Mereka cenderung beranggapan segala yang berasal dari luar itu baik, terutama yang menyangkut kebudayaan dan teknologi. Cara hidup dan berfikir sudah mengikuti pola modern, hidup hemat, cermat dan ekonomis.

Bupati laungching pilkades serentak2018 di kabupaten bima

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima melaluibBupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri (IDP) melakukan launching pelaksanaan ...

Write here, about you and your blog.
 
Copyright 2009 jarvis-fisipol028.blogspot.com All rights reserved.
Free Blogger Templates by DeluxeTemplates.net
Wordpress Theme by EZwpthemes
Blogger Templates